Jakarta, 6 Mei 2026 – Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tingkat pengangguran di Indonesia masih didominasi oleh lulusan sekolah menengah atas (SMA) dan sekolah menengah kejuruan (SMK). Temuan ini menjadi perhatian serius dalam upaya meningkatkan kualitas tenaga kerja nasional.
BPS menjelaskan bahwa tingginya angka pengangguran pada kelompok tersebut dipengaruhi oleh ketidaksesuaian antara keterampilan lulusan dengan kebutuhan industri. Banyak lulusan yang belum memiliki kompetensi yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja yang terus berkembang.
Selain itu, terbatasnya lapangan pekerjaan formal juga menjadi faktor penyebab. Persaingan yang ketat membuat lulusan SMA dan SMK harus bersaing tidak hanya dengan sesama lulusan setingkat, tetapi juga dengan lulusan pendidikan yang lebih tinggi.
Pemerintah terus mendorong peningkatan kualitas pendidikan vokasi agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Program pelatihan kerja dan sertifikasi kompetensi juga diperluas untuk membantu lulusan meningkatkan daya saing mereka.
Di sisi lain, dunia usaha diharapkan dapat berperan aktif dalam menyerap tenaga kerja serta memberikan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Kolaborasi antara sektor pendidikan dan industri dinilai penting untuk mengurangi kesenjangan keterampilan.
Dengan fokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, diharapkan angka pengangguran di kalangan lulusan SMA dan SMK dapat ditekan secara bertahap, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.