Jakarta, 19 Oktober 2026 – Kisah urban legend yang berkembang di tengah masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan, menjadi inspirasi cerita horor yang diangkat ke layar lebar melalui film Pirunduk. Film ini mengusung teror ilmu hitam yang mengancam kehidupan masyarakat di sebuah desa dengan latar budaya dan kepercayaan lokal. Cerita yang dihadirkan memadukan unsur misteri, ketakutan, serta konflik yang muncul akibat praktik mistis yang dipercaya memiliki kekuatan berbahaya. Pengangkatan legenda daerah menjadi karya sinema sekaligus memperkenalkan kekayaan cerita rakyat Indonesia kepada penonton yang lebih luas. Melalui pendekatan horor, Pirunduk berupaya menghadirkan pengalaman menegangkan dengan memanfaatkan atmosfer kehidupan masyarakat pedesaan.
Cerita Pirunduk berangkat dari kepercayaan mengenai ilmu hitam yang berkembang dalam tradisi lisan masyarakat Banjar. Dalam kisah yang beredar, kekuatan mistis digambarkan dapat digunakan untuk mencelakai seseorang melalui cara-cara yang sulit dijelaskan secara rasional. Kepercayaan tersebut kemudian menjadi dasar pengembangan konflik dalam film, terutama ketika masyarakat desa menghadapi serangkaian kejadian yang dianggap tidak wajar. Ketakutan mulai berkembang ketika warga berusaha memahami sumber ancaman yang mengganggu ketenteraman lingkungan mereka. Unsur mistis yang diangkat menjadi bagian dari cerita fiksi dan tidak dapat dipandang sebagai bukti keberadaan kekuatan supranatural. Namun, kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun memberikan karakter tersendiri terhadap atmosfer cerita.
Film Pirunduk mengambil latar Kalimantan Selatan pada era 1980-an dengan tokoh utama bernama Siti yang diperankan Aulia Sarah. Siti merupakan perempuan Banjar yang terpaksa menikah dengan seorang juragan bernama Badarudin, diperankan Bucek Depp, demi melunasi utang ayahnya. Pernikahan tersebut justru membawa penderitaan karena Siti kerap mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya. Keadaan semakin memburuk ketika Siti tidak kunjung memiliki anak dan Badarudin memutuskan menikahi perempuan lain bernama Ratih yang diperankan Yoriko Angeline. Tekanan rumah tangga yang terus berlangsung membuat Siti kehilangan harapan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Dalam kondisi terdesak, Siti akhirnya mengambil keputusan mempelajari ilmu hitam Pirunduk untuk menundukkan hati dan kehendak suaminya. Ia berharap kekuatan tersebut dapat mengubah perlakuan Badarudin sekaligus mengembalikan kedudukannya dalam rumah tangga. Namun, keputusan tersebut justru membuka jalan bagi munculnya teror yang semakin sulit dikendalikan. Kekuatan mistis yang digunakannya digambarkan menuntut pengorbanan besar dan membawa akibat mengerikan. Ancaman yang semula berkaitan dengan persoalan pribadi kemudian berkembang hingga membahayakan orang-orang di sekitar Siti. Konflik tersebut menjadi inti cerita yang memadukan penderitaan, dendam, dan konsekuensi dari keputusan yang diambil dalam keputusasaan.
Film ini disutradarai Billy Christian dengan naskah yang ditulis oleh Tubagus Deddy dan Budi Ismanto. Proses produksinya melibatkan Pichouse Films, Pentana Production Studio, dan Bimasakti Pictures Production. Budi Ismanto yang juga terlibat sebagai produser menjelaskan bahwa kisah Pirunduk terinspirasi dari kepercayaan masyarakat Banjar mengenai ilmu pemikat dan penakluk. Dalam tradisi lisan setempat, istilah tersebut berkaitan dengan kemampuan mistis yang dipercaya dapat memengaruhi kehendak seseorang. Melalui cerita ini, tim produksi berusaha menghadirkan sudut pandang berbeda dalam perfilman horor Indonesia. Penggunaan latar Kalimantan Selatan menjadi salah satu ciri utama yang membedakan film tersebut dari kisah horor berlatar daerah lain.
Nuansa budaya Banjar juga diperkuat melalui pemilihan lokasi pengambilan gambar di sejumlah kawasan Kalimantan Selatan. Desa Tatah Masjid di Kabupaten Barito Kuala serta kawasan Sungai Jingah di Banjarmasin menjadi bagian dari lokasi produksi. Lingkungan rumah panggung, aliran sungai, dan aktivitas masyarakat setempat digunakan untuk menggambarkan kehidupan pedesaan pada era 1980-an. Penggunaan bahasa Banjar dalam sejumlah dialog turut memberikan identitas budaya yang kuat pada cerita. Selain melibatkan aktor nasional, produksi film ini juga menghadirkan sejumlah pemain lokal untuk memperkuat penggambaran kehidupan masyarakat. Pendekatan tersebut diharapkan membuat latar cerita terasa lebih dekat dengan tradisi yang menjadi sumber inspirasinya.
Dari sisi pemeran, Aulia Sarah dipercaya menghidupkan karakter Siti yang mengalami perubahan emosional sepanjang cerita. Bucek Depp tampil sebagai Badarudin, sosok suami yang memiliki peran besar dalam penderitaan tokoh utama. Sementara itu, Yoriko Angeline memerankan Ratih, perempuan yang menjadi istri muda Badarudin dan menambah rumit konflik rumah tangga. Film ini juga menghadirkan sejumlah pemeran pendukung, termasuk Boy Idrus, Alam Jaya, dan Bastari Bayu. Kehadiran para pemain tersebut melengkapi kisah mengenai hubungan antartokoh yang berkembang menjadi konflik penuh ketegangan. Perpaduan drama keluarga dan unsur supranatural menjadi daya tarik yang ditawarkan kepada penonton.
Film Pirunduk telah menggelar penayangan perdana atau gala premiere di CGV Grand Indonesia, Jakarta, pada Kamis (15/10/2026). Setelah kegiatan tersebut, film dijadwalkan tayang secara serentak di bioskop Indonesia mulai Kamis, 22 Oktober 2026. Kehadirannya menambah deretan film horor nasional yang mengangkat cerita rakyat dan kepercayaan lokal sebagai sumber inspirasi. Selain menawarkan adegan menegangkan, film ini menampilkan persoalan kekerasan dalam rumah tangga, ketidakadilan, dan dendam sebagai dasar konflik. Kisah yang berkembang memperlihatkan bagaimana penderitaan seorang perempuan berubah menjadi ancaman bagi lingkungan sekitarnya. Dengan latar budaya Banjar yang kuat, Pirunduk diharapkan dapat memperkenalkan kekayaan legenda Kalimantan Selatan sekaligus memberikan pengalaman menonton yang berbeda bagi pencinta film horor Indonesia.