Jakarta, 23 September 2026 – Persaingan menuju gelar juara dunia MotoGP 2026 semakin ketat setelah rangkaian balapan di Red Bull Ring, Austria. Manajer Ducati Lenovo, Davide Tardozzi, mengakui situasi timnya kini lebih rumit setelah kehilangan cukup banyak poin pada akhir pekan tersebut. Jorge Martin bersama Aprilia mampu memanfaatkan momentum untuk kembali membuka keunggulan atas Marc Marquez. Martin kini memimpin Marquez dengan selisih 12 poin menjelang MotoGP Jepang. Ducati pun menyadari setiap hasil pada sisa musim akan memiliki pengaruh besar terhadap perebutan gelar.
Situasi tersebut berubah cukup cepat dibandingkan setelah MotoGP San Marino di Misano. Ketika itu, Marquez berhasil meraih kemenangan dan menyamai perolehan 274 poin milik Martin. Marquez bahkan berada di posisi pertama klasemen karena memiliki jumlah kemenangan Grand Prix lebih banyak. Kebangkitan tersebut terbilang signifikan karena sebelumnya pembalap Ducati itu sempat tertinggal hingga 102 poin dari pemimpin klasemen. Hasil di Austria kemudian kembali mengubah keseimbangan persaingan menjelang fase akhir musim.
Ducati sebenarnya datang ke Red Bull Ring dengan ekspektasi tinggi mengingat performa mereka di sirkuit tersebut pada musim-musim sebelumnya. Namun, hasil balapan utama tidak berjalan sesuai rencana. Tidak ada pembalap Ducati yang berhasil menembus podium, sementara Marquez menjadi pembalap Ducati dengan hasil terbaik setelah finis kelima. Pedro Acosta membawa KTM memenangi balapan, sedangkan tiga pembalap Aprilia mengisi posisi tepat di belakangnya. Hasil itu membuat Tardozzi mengakui Aprilia telah melakukan pekerjaan yang sangat baik.
Di tengah tekanan tersebut, Tardozzi teringat pada pelajaran yang pernah diberikan Casey Stoner. Menurutnya, konsistensi memang menjadi salah satu unsur penting dalam perebutan gelar, tetapi kecepatan dan agresivitas juga dibutuhkan ketika musim memasuki fase menentukan. Ia mengatakan Ducati kini telah mencapai titik ketika tim harus mulai menyerang. Tardozzi kemudian mengingat prinsip Stoner bahwa paruh pertama kejuaraan dijalani dengan menggunakan kepala, sedangkan paruh kedua membutuhkan keberanian dan hati. Filosofi tersebut kini menjadi salah satu pegangan Ducati menghadapi sisa MotoGP 2026.
Casey Stoner memiliki hubungan penting dengan sejarah Ducati di MotoGP. Pembalap Australia tersebut membawa Ducati meraih gelar juara dunia pada 2007 sebelum kemudian kembali menjadi juara bersama Honda pada 2011. Pengalamannya menghadapi tekanan perebutan gelar membuat pandangannya masih dikenang oleh orang-orang yang pernah bekerja bersamanya. Bagi Tardozzi, pesan Stoner menggambarkan perubahan pendekatan yang dibutuhkan ketika kejuaraan mulai mendekati akhir. Ducati tidak hanya perlu menghindari kesalahan, tetapi juga harus mampu memanfaatkan kesempatan untuk merebut poin sebanyak mungkin.
Tardozzi menilai perebutan gelar masih terbuka, tetapi Ducati harus memperhitungkan karakter beberapa sirkuit yang tersisa. Berdasarkan performa dalam beberapa musim terakhir, ia mengakui terdapat lintasan tertentu yang membuat para rival berpotensi tampil lebih kompetitif. Situasi tersebut membuat kehilangan poin di Austria terasa semakin penting bagi Ducati. Tim asal Borgo Panigale itu tidak dapat hanya mengandalkan keunggulan teknis yang pernah dimiliki pada musim sebelumnya. Setiap akhir pekan kini membutuhkan pendekatan yang disesuaikan dengan karakter lintasan dan kekuatan rival.
Salah satu masalah Ducati di Austria berkaitan dengan karakter ban belakang Michelin dengan konstruksi lebih kaku yang digunakan pada lintasan dengan tuntutan temperatur tinggi. Tardozzi mengakui kondisi tersebut menjadi salah satu area yang perlu dievaluasi. General Manager Ducati Corse Gigi Dall’Igna disebut tidak puas dengan situasi yang terjadi di Red Bull Ring. Ducati diperkirakan mencari solusi melalui penyesuaian teknis maupun pengembangan lain menjelang seri berikutnya. Tardozzi menegaskan tim harus memberikan respons setelah kehilangan banyak poin di Austria.
Persaingan musim ini memang berbeda dibandingkan periode ketika Ducati mampu mendominasi sebagian besar akhir pekan balapan. Aprilia tampil semakin kompetitif melalui Martin dan Marco Bezzecchi, sementara KTM menunjukkan kecepatannya lewat Acosta. Setelah San Marino, Bezzecchi berada di posisi ketiga klasemen dengan 241 poin, diikuti Fabio Di Giannantonio dengan 223 poin dan Acosta dengan 209 poin. Hasil Austria kemudian kembali mengubah jarak antarpembalap di papan atas. Kondisi tersebut membuat konsistensi menjadi semakin penting karena kesalahan kecil dapat berujung kehilangan banyak posisi dalam persaingan.
Bagi Marquez, perjuangan pada musim 2026 juga menjadi salah satu kebangkitan terbesar dalam kariernya. Ia pernah tertinggal 102 poin sebelum secara bertahap memangkas jarak melalui serangkaian hasil kuat. Kemenangan ganda dalam sprint dan balapan utama di Misano menjadi momentum yang membawanya kembali ke posisi teratas sebelum Austria. Marquez sebelumnya mengatakan peluang juara yang sempat terlihat sangat kecil kini kembali terbuka. Dengan pengalaman panjang dalam perebutan gelar, Ducati menaruh kepercayaan besar kepadanya untuk menghadapi tekanan pada bagian akhir musim.
MotoGP Jepang akan menjadi ujian berikutnya bagi Ducati, Marquez, dan para rival dalam perebutan gelar 2026. Dengan Martin memiliki keunggulan 12 poin atas Marquez setelah Austria, persaingan masih menyisakan ruang bagi perubahan posisi pada seri-seri berikutnya. Ducati kini berusaha memperbaiki kelemahan yang muncul di Red Bull Ring sekaligus mempertahankan kecepatan yang sebelumnya membawa Marquez kembali ke barisan depan. Pesan Stoner mengenai keseimbangan antara perhitungan dan keberanian pun menjadi relevan ketika musim memasuki fase penentuan. Bagi Ducati, tantangannya adalah menerjemahkan filosofi tersebut menjadi hasil konsisten tanpa mengambil risiko yang justru menghilangkan poin penting.