Jakarta, 25 September 2026 –
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergerak ke zona hijau pada awal perdagangan Jumat, 25 September 2026, setelah mengalami tekanan cukup dalam pada sesi sebelumnya. Indeks komposit dibuka menguat ke kisaran 6.315 atau berbalik naik dari posisi penutupan perdagangan Kamis yang berada di level 6.298,61. Pergerakan tersebut menunjukkan munculnya aksi beli setelah pasar saham domestik sebelumnya mengalami koreksi sebesar 1,20 persen. Rebound pada awal perdagangan menjadi perhatian karena IHSG masih berada dalam fase volatilitas tinggi akibat kombinasi sentimen domestik dan global. Pelaku pasar tetap mencermati kemampuan indeks mempertahankan penguatan hingga perdagangan berlangsung lebih jauh.
Pada perdagangan Kamis, IHSG ditutup melemah 76,30 poin atau sekitar 1,20 persen menjadi 6.298,61. Tekanan jual berlangsung cukup luas dengan 487 saham mengalami penurunan, sementara 198 saham menguat dan 278 saham bergerak stagnan. Pelemahan juga terjadi pada sejumlah saham berkapitalisasi besar, terutama dari sektor perbankan dan kelompok saham yang sebelumnya menjadi penggerak indeks. Kondisi tersebut membuat IHSG memasuki perdagangan Jumat dari basis yang lebih rendah sehingga membuka peluang terjadinya technical rebound. Aksi beli pada sejumlah saham yang telah mengalami koreksi menjadi salah satu faktor yang menopang pergerakan indeks pada awal sesi.
Tekanan pada perdagangan sebelumnya turut terlihat dari pergerakan saham-saham perbankan besar. Saham Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia, Bank Rakyat Indonesia, dan Bank Central Asia sama-sama mengalami koreksi pada perdagangan Kamis. Sejumlah saham energi, bahan baku, properti, teknologi, hingga industri juga berada dalam tekanan sehingga hampir seluruh sektor bergerak di zona merah. Pelemahan yang terjadi secara luas membuat investor semakin selektif menentukan saham yang dinilai telah berada pada valuasi menarik. Kondisi inilah yang membuka ruang bagi aksi beli kembali ketika perdagangan Jumat dimulai.
Meski IHSG berhasil rebound pada pembukaan, tekanan dari pasar global masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Bursa saham Asia bergerak bervariasi pada Jumat pagi ketika investor mencermati kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat dan perkembangan geopolitik internasional. Yield US Treasury tenor 10 tahun berada pada level tinggi sehingga berpotensi meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar dan menekan pasar saham negara berkembang. Situasi tersebut dapat memengaruhi arus modal asing di pasar keuangan Indonesia. Karena itu, penguatan pada pembukaan belum otomatis menunjukkan bahwa tekanan terhadap IHSG telah sepenuhnya berakhir.
Arus dana investor asing juga menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pasar setelah perdagangan sebelumnya mencatat tekanan jual cukup besar. Net sell asing pada Kamis mencapai sekitar Rp1,42 triliun ketika IHSG berakhir di zona merah. Besarnya aksi jual tersebut membuat pergerakan investor asing kembali menjadi salah satu faktor penting pada perdagangan Jumat. Apabila tekanan jual mereda, ruang bagi indeks untuk mempertahankan rebound dapat semakin terbuka. Sebaliknya, berlanjutnya pelepasan saham berkapitalisasi besar berpotensi kembali menahan kenaikan indeks sepanjang sesi perdagangan.
Secara teknikal, sejumlah analis sebelumnya menilai IHSG masih mempunyai risiko menguji area yang lebih rendah meskipun terdapat peluang penguatan jangka pendek. Area penguatan terdekat berada di sekitar 6.322 hingga 6.344, sedangkan level support terdekat berada di kisaran 6.267. Pergerakan IHSG ke sekitar 6.315 pada pembukaan membuat indeks mendekati area penguatan teknikal tersebut. Kemampuan menembus dan bertahan di atas area itu akan menjadi perhatian pelaku pasar dalam menentukan arah perdagangan berikutnya. Namun, volatilitas tetap perlu diantisipasi karena tekanan jual yang muncul pada sesi sebelumnya masih cukup kuat.
Rebound IHSG pada pembukaan Jumat memberikan sedikit ruang pemulihan setelah indeks mengalami koreksi tajam sehari sebelumnya. Pergerakan selanjutnya akan ditentukan oleh kekuatan aksi beli domestik, arah transaksi investor asing, pergerakan bursa regional, serta perkembangan imbal hasil obligasi Amerika Serikat. Investor juga masih memperhatikan kondisi nilai tukar rupiah dan sentimen ekonomi global menjelang akhir pekan. Dengan indeks membuka perdagangan di sekitar level 6.315, pasar kini menunggu apakah penguatan dapat berlanjut menuju area 6.322–6.344 atau kembali menghadapi tekanan jual. Perdagangan sepanjang hari diperkirakan tetap berlangsung dinamis seiring pelaku pasar menyesuaikan posisi terhadap berbagai sentimen yang berkembang.