Jakarta, 27 Mei 2026 – Penggunaan kantong plastik hitam untuk membungkus daging kurban kembali menjadi sorotan setelah seorang profesor dari Universitas Indonesia mengingatkan potensi bahayanya bagi kesehatan masyarakat. Kantong plastik hitam yang masih sering digunakan saat pembagian daging Iduladha dinilai tidak aman untuk kontak langsung dengan bahan pangan, terutama makanan yang masih hangat atau mengandung lemak tinggi seperti daging. Banyak masyarakat belum menyadari bahwa sebagian plastik hitam diproduksi dari bahan daur ulang yang belum tentu memenuhi standar keamanan pangan. Jika digunakan secara sembarangan, zat kimia tertentu dari plastik berpotensi berpindah ke makanan dan masuk ke dalam tubuh manusia. Oleh sebab itu, masyarakat diimbau lebih berhati-hati dalam memilih wadah untuk menyimpan dan membagikan daging kurban.
Menurut penjelasan akademisi tersebut, kantong plastik hitam umumnya tidak dirancang khusus untuk kebutuhan makanan karena sering berasal dari limbah plastik campuran yang diproses ulang. Dalam kondisi tertentu, terutama ketika terkena panas atau kontak dengan makanan berminyak, bahan kimia dari plastik dapat larut dan mencemari makanan. Risiko tersebut dinilai semakin tinggi jika plastik digunakan dalam waktu lama atau untuk menyimpan makanan panas. Karena itu, penggunaan plastik hitam untuk membungkus daging kurban dinilai sebaiknya dihindari demi menjaga keamanan konsumsi masyarakat. Sebagai alternatif, masyarakat dianjurkan menggunakan wadah food grade atau kemasan ramah lingkungan yang lebih aman bagi kesehatan.
Peringatan mengenai penggunaan plastik hitam sebenarnya telah beberapa kali disampaikan oleh kalangan kesehatan dan lingkungan dalam berbagai momentum pembagian makanan massal. Namun di lapangan, penggunaan kantong hitam masih cukup umum karena dianggap murah, mudah diperoleh, dan mampu menampung daging dalam jumlah besar. Banyak panitia kurban di berbagai daerah mulai berupaya beralih ke penggunaan kantong transparan khusus makanan atau wadah berbahan ramah lingkungan sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat. Selain faktor kesehatan, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai juga dinilai penting untuk mengurangi dampak pencemaran lingkungan. Kesadaran masyarakat mengenai keamanan kemasan pangan disebut mulai meningkat meski penerapannya belum sepenuhnya merata.
Pengamat kesehatan lingkungan menilai momentum Iduladha dapat menjadi kesempatan penting untuk meningkatkan edukasi publik mengenai bahaya penggunaan bahan kemasan yang tidak sesuai standar pangan. Selain menjaga kualitas daging, penggunaan wadah yang aman juga dapat membantu mencegah risiko paparan zat kimia berbahaya dalam jangka panjang. Pemerintah daerah dan panitia kurban pun diimbau lebih aktif memberikan sosialisasi mengenai pilihan kemasan yang aman dan higienis. Di sejumlah wilayah, penggunaan besek bambu, daun, atau kantong ramah lingkungan mulai diperkenalkan sebagai alternatif pengganti plastik konvensional. Langkah tersebut dinilai tidak hanya lebih aman bagi kesehatan, tetapi juga membantu mengurangi timbunan sampah plastik setelah perayaan kurban.
Para ahli berharap masyarakat semakin memahami pentingnya memilih kemasan pangan yang aman, terutama saat menangani makanan yang akan dikonsumsi banyak orang. Kesadaran sederhana seperti tidak menggunakan kantong plastik hitam untuk daging kurban dianggap dapat memberikan dampak besar terhadap kesehatan publik dalam jangka panjang. Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu keamanan pangan dan lingkungan, perubahan kebiasaan kecil dinilai dapat menjadi langkah penting menuju pola hidup yang lebih sehat. Momentum Iduladha juga diharapkan menjadi ajang edukasi bersama mengenai pentingnya menjaga kualitas makanan sejak proses distribusi hingga konsumsi. Dengan penggunaan kemasan yang lebih aman dan higienis, pembagian daging kurban dapat berlangsung lebih sehat, nyaman, dan ramah lingkungan bagi masyarakat luas.