Jakarta, 7 September 2026 – Promotor konser perayaan 40 tahun Kahitna, Enjoy Live Experience, menyampaikan permohonan maaf terbuka setelah penyelenggaraan acara tersebut menuai banyak kritik dari penonton. Konser bertajuk Kahitna 40 Tahun yang digelar di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, pada Sabtu, 5 September 2026, awalnya dipersiapkan sebagai perayaan perjalanan empat dekade grup musik tersebut. Namun, setelah acara berakhir, sejumlah penonton mengungkapkan kekecewaan terhadap berbagai aspek penyelenggaraan melalui media sosial. Keluhan mencakup pengaturan antrean masuk, sistem tiket, tata kursi, pandangan menuju panggung, kualitas audio, hingga fasilitas di lokasi acara. Sebagian penonton juga menilai pengalaman yang mereka dapatkan tidak sebanding dengan harga tiket yang telah dibayarkan. Kritik tersebut kemudian menjadi perbincangan luas di kalangan Soulmate, sebutan bagi penggemar Kahitna. Promotor akhirnya memberikan tanggapan dan memastikan seluruh masukan akan menjadi bahan evaluasi.
Enjoy Live Experience menyampaikan permintaan maaf melalui akun media sosial resminya setelah memantau berbagai tanggapan penonton. Promotor mengakui pengalaman yang diperoleh sebagian pengunjung belum sesuai dengan ekspektasi maupun standar pelayanan yang seharusnya diberikan. Dalam kurun sekitar 24 jam setelah konser, pihak penyelenggara mengaku telah menelaah berbagai keluhan yang disampaikan secara langsung maupun melalui media sosial. Promotor menegaskan tidak berniat mengabaikan atau mengecilkan kritik yang muncul. Evaluasi internal secara menyeluruh mulai dilakukan bersama tim yang terlibat dalam penyelenggaraan konser. Setiap persoalan yang disampaikan penonton akan ditelusuri untuk mengetahui penyebab dan bagian yang perlu diperbaiki. Langkah tersebut diharapkan dapat menghasilkan perbaikan nyata apabila Enjoy Live Experience kembali menyelenggarakan acara pada masa mendatang.
Salah satu keluhan yang banyak muncul berkaitan dengan pengaturan penonton sebelum memasuki area konser. Sejumlah pengunjung mengaku menghadapi antrean yang dianggap kurang teratur dan sempat terjadi kepadatan ketika pintu menuju area pertunjukan dibuka. Perubahan waktu masuk juga menjadi perhatian karena membuat sebagian penonton harus menunggu lebih lama. Ada pula penonton yang menyoroti mekanisme gelang masuk yang dinilai tidak menggunakan sistem validasi sebagaimana mereka harapkan. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas pengawasan akses menuju area konser. Beberapa pengunjung juga menilai pembagian jalur berdasarkan kategori tiket kurang terlihat jelas ketika antrean berlangsung. Situasi itu kemudian menjadi salah satu pengalaman yang paling banyak dibagikan melalui media sosial. Promotor menyatakan seluruh keluhan mengenai manajemen arus penonton akan masuk dalam proses evaluasi internal.
Tata letak kursi dan pandangan menuju panggung juga menjadi bagian yang mendapatkan sorotan cukup besar. Sejumlah pemegang tiket kategori tertentu mengeluhkan posisi mereka yang dianggap tidak memberikan pandangan optimal terhadap penampilan Kahitna. Beberapa area di sisi kanan dan kiri dinilai mempunyai keterbatasan pandangan karena ukuran serta posisi panggung dan layar. Kritik semakin ramai karena harga tiket konser tersebut berada pada rentang sekitar Rp450 ribu hingga Rp3,5 juta. Dengan harga tersebut, sebagian penonton mengaku mempunyai ekspektasi tinggi terhadap kenyamanan dan pengalaman visual selama pertunjukan. Perubahan rencana tempat duduk menjelang konser juga menjadi salah satu hal yang dipersoalkan sejumlah pembeli tiket. Mereka menilai informasi mengenai posisi tempat duduk merupakan pertimbangan penting ketika menentukan kategori tiket yang akan dibeli. Persoalan tata kursi kemudian menjadi salah satu topik utama dalam respons penonton setelah konser selesai.
Selain persoalan akses dan tempat duduk, kualitas suara selama pertunjukan turut mendapat kritik. Sejumlah penonton menyebut audio pada beberapa bagian konser terdengar kurang optimal sehingga mengurangi kenyamanan ketika menikmati lagu-lagu Kahitna. Keluhan mengenai kualitas suara menjadi cukup penting mengingat konser tersebut merupakan perayaan empat dekade perjalanan grup yang dikenal melalui berbagai lagu populer. Penonton datang dengan harapan dapat menikmati repertoar Kahitna dalam produksi pertunjukan yang maksimal. Selain audio, beberapa pengunjung turut menyoroti keterbatasan fasilitas pendukung, termasuk toilet dan pilihan makanan yang tersedia di lokasi. Kondisi tangga di beberapa area venue juga disebut cukup gelap dan curam sehingga dinilai kurang nyaman bagi sebagian pengunjung. Beragam keluhan tersebut menunjukkan kritik tidak hanya terpusat pada satu bagian penyelenggaraan. Promotor karena itu memilih melakukan evaluasi terhadap keseluruhan pengalaman penonton sejak datang hingga meninggalkan lokasi.
Durasi dan konsep pertunjukan juga menimbulkan perbedaan respons dari penonton. Sejumlah penggemar menilai porsi percakapan dalam acara cukup banyak sehingga sebagian pertunjukan terasa lebih menyerupai sesi bincang-bincang dibandingkan konser musik. Bagi sebagian penonton, konsep tersebut mungkin memberikan ruang untuk mengenang perjalanan panjang Kahitna selama empat dekade. Namun, penonton lainnya berharap porsi penampilan musik mendapatkan waktu yang lebih besar. Perbedaan ekspektasi tersebut kemudian ikut muncul dalam berbagai ulasan di media sosial. Sebagai konser perayaan ulang tahun ke-40, acara tersebut memang tidak hanya dirancang sebagai pertunjukan lagu, tetapi juga membawa unsur perjalanan dan cerita grup. Meski demikian, respons penonton menunjukkan penyusunan komposisi acara menjadi bagian penting dalam membentuk kepuasan pengunjung. Evaluasi terhadap alur pertunjukan kemungkinan menjadi salah satu aspek yang turut diperhatikan penyelenggara.
Kritik terhadap penyelenggaraan semakin menjadi perhatian karena sebelum konser berlangsung pihak promotor telah menyadari besarnya tantangan dalam mengelola jumlah penonton. Acara tersebut diproyeksikan menjadi salah satu konser terbesar Kahitna dari sisi jumlah audiens dengan target sekitar 20 ribu orang. NICE PIK 2 juga merupakan venue yang relatif baru digunakan untuk sejumlah kegiatan berskala besar. Sebelum hari pelaksanaan, promotor menyebut pengelolaan pengalaman penonton sejak tiba hingga masuk ke area pertunjukan sebagai salah satu tantangan utama. Kenyamanan selama proses tersebut dianggap sama pentingnya dengan kualitas pertunjukan di atas panggung. Namun, berbagai kritik yang muncul setelah konser menunjukkan sejumlah aspek operasional masih belum memenuhi harapan sebagian pengunjung. Kondisi tersebut menjadi pelajaran mengenai pentingnya simulasi arus penonton, akses masuk, tata kursi, keamanan, dan kesiapan fasilitas sebelum sebuah acara besar berlangsung. Jumlah pengunjung yang tinggi membutuhkan koordinasi antartim yang lebih ketat agar tidak menimbulkan kepadatan maupun kebingungan.
Sebagai tindak lanjut, Enjoy Live Experience membuka kanal khusus agar penonton dapat menyampaikan keluhan dan masukan secara formal. Promotor meminta Soulmate maupun pengunjung lainnya memberikan penjelasan mengenai pengalaman yang mereka alami selama acara. Informasi tersebut akan digunakan sebagai bagian dari proses pembelajaran dan evaluasi internal. Dengan mengumpulkan laporan langsung dari penonton, penyelenggara diharapkan dapat mengetahui persoalan secara lebih terperinci dibandingkan hanya mengandalkan percakapan yang beredar di media sosial. Masukan dapat membantu mengidentifikasi masalah sejak proses penukaran tiket, antrean, masuk ke venue, mencari tempat duduk, menikmati pertunjukan, hingga meninggalkan lokasi. Promotor juga berkomitmen menjadikan kritik tersebut sebagai dasar perbaikan untuk penyelenggaraan acara berikutnya. Langkah lanjutan dari evaluasi tersebut kini menjadi salah satu hal yang ditunggu para penonton.
Meski promotor telah meminta maaf, respons sebagian penggemar menunjukkan kekecewaan belum sepenuhnya mereda. Sejumlah warganet meminta penyelenggara tidak berhenti pada permintaan maaf dan pengumpulan masukan semata. Mereka menginginkan evaluasi menghasilkan perubahan konkret terhadap standar penyelenggaraan konser berikutnya. Harga tiket yang relatif tinggi menjadi salah satu alasan mengapa penonton mempunyai tuntutan besar terhadap kualitas pelayanan. Bagi pengunjung, pengalaman konser tidak hanya ditentukan oleh penampilan musisi di atas panggung, tetapi juga keseluruhan pelayanan sejak pembelian tiket hingga acara selesai. Tata letak venue, kualitas suara, keamanan, kenyamanan, akses fasilitas, dan pengaturan kerumunan mempunyai pengaruh besar terhadap kepuasan. Gelombang kritik tersebut sekaligus menunjukkan penonton konser di Indonesia semakin aktif menyampaikan evaluasi terhadap penyelenggara. Promotor dituntut mampu merespons kritik tersebut secara terbuka dan melakukan pembenahan apabila ditemukan kekurangan.
Konser Kahitna 40 Tahun sendiri menjadi momentum penting dalam perjalanan grup yang telah bertahan selama empat dekade di industri musik Indonesia. Perayaan tersebut membawa ekspektasi besar karena Kahitna memiliki basis penggemar lintas generasi dan katalog lagu yang telah menemani pendengar selama bertahun-tahun. Namun, sorotan terhadap persoalan teknis dan pelayanan membuat pembicaraan pascakonser tidak hanya berpusat pada penampilan grup tersebut. Enjoy Live Experience kini menghadapi tugas untuk menuntaskan evaluasi dan memastikan keluhan penonton mendapatkan perhatian yang memadai. Promotor telah menyampaikan permintaan maaf serta berjanji menggunakan seluruh masukan sebagai bahan perbaikan nyata. Evaluasi menyeluruh diperlukan agar pengalaman kurang menyenangkan yang dirasakan sebagian penonton tidak kembali terjadi pada acara berikutnya. Bagi industri pertunjukan, kejadian tersebut juga menjadi pengingat bahwa kualitas konser ditentukan oleh perpaduan antara penampilan artis dan kesiapan penyelenggaraan. Perayaan perjalanan panjang musisi akan terasa lebih bermakna ketika penonton mendapatkan pengalaman yang aman, nyaman, dan sesuai dengan ekspektasi.