Jakarta, 7 September 2026 – Penyebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau membuat masyarakat perlu menyesuaikan sejumlah aktivitas sehari-hari, termasuk ketika mencuci dan menjemur pakaian. Pakaian yang sudah dicuci bersih dapat kembali terkontaminasi apabila dijemur di luar ruangan ketika partikel abu masih bertebaran di udara. Ukuran partikel yang sangat halus membuat abu mudah menempel pada permukaan dan serat kain, terutama bahan yang memiliki pori. Kondisi tersebut tidak hanya membuat pakaian kembali kotor, tetapi juga dapat menyebabkan ketidaknyamanan ketika kain bersentuhan dengan kulit. Karena itu, menjemur pakaian di dalam ruangan menjadi pilihan yang lebih aman selama paparan abu vulkanik masih terjadi.
Dokter Kevin Mak menjelaskan partikel abu vulkanik memiliki karakter yang halus sekaligus abrasif sehingga mudah menempel pada serat pakaian. Bahan seperti katun dapat menangkap partikel yang berterbangan apabila dibiarkan berada di area terbuka. Pakaian yang sebelumnya telah dicuci pun berpotensi kembali membawa abu ketika digunakan. Gesekan antara partikel yang menempel pada kain dengan kulit dapat memicu iritasi, terutama pada orang dengan kulit sensitif. Risiko tersebut membuat kebersihan pakaian perlu mendapatkan perhatian selama wilayah tempat tinggal masih mengalami paparan abu.
Pilihan paling aman untuk sementara adalah mengeringkan pakaian di area dalam rumah yang tidak terpapar langsung udara dari luar. Ruangan tetap perlu memiliki sirkulasi yang memadai agar pakaian tidak terlalu lama berada dalam kondisi lembap. Masyarakat dapat menggunakan kipas atau perangkat pengurang kelembapan untuk membantu proses pengeringan, tetapi penggunaannya perlu diatur agar tidak justru menyebarkan abu yang sudah masuk ke dalam rumah. Jendela yang menghadap langsung ke area dengan banyak abu sebaiknya tetap ditutup. Prinsip utamanya adalah memberikan aliran udara yang cukup tanpa membuka jalan bagi partikel dari luar untuk kembali mengontaminasi pakaian.
Area seperti ruang cuci tertutup, kamar mandi dengan ventilasi yang baik, balkon yang benar-benar terlindungi, atau ruangan khusus untuk menjemur dapat dimanfaatkan. Pakaian sebaiknya diberi jarak agar udara dapat bergerak di antara kain sehingga proses pengeringan berlangsung lebih cepat. Menumpuk pakaian basah dalam ruangan justru dapat meningkatkan kelembapan dan menimbulkan bau tidak sedap. Apabila memungkinkan, pakaian dapat diperas dengan baik terlebih dahulu sebelum digantung. Penggunaan mesin pengering juga dapat dipertimbangkan selama pakaian telah dipastikan bebas dari abu sebelum dimasukkan ke dalam mesin.
Penanganan berbeda diperlukan apabila pakaian sudah terlanjur dijemur di luar ketika abu vulkanik turun. Pakaian tersebut sebaiknya tidak langsung digunakan meskipun secara kasatmata terlihat bersih. Partikel abu dapat berukuran sangat kecil sehingga keberadaannya pada kain tidak selalu mudah terlihat. Pakaian yang terpapar sebaiknya dicuci kembali menggunakan air sebelum digunakan. Membawa pakaian kemudian mengibasnya dengan kuat di dalam rumah juga sebaiknya dihindari karena tindakan tersebut dapat membuat partikel yang menempel kembali beterbangan dan mencemari udara dalam ruangan.
Pakaian yang terkena cukup banyak abu dapat dibilas terlebih dahulu dengan air mengalir sebelum menjalani pencucian normal. Pencucian sebaiknya dilakukan dalam jumlah yang tidak terlalu banyak sekaligus sehingga tersedia cukup air untuk membantu melepaskan partikel dari serat kain. Deterjen dapat digunakan sebagaimana proses mencuci pakaian pada umumnya. Menggosok kain terlalu keras tidak diperlukan karena abu bersifat abrasif dan gesekan berlebihan berpotensi merusak sebagian jenis serat. Setelah proses pencucian selesai, pakaian kembali dikeringkan di area terlindung sampai kondisi udara luar membaik.
Kehati-hatian juga diperlukan ketika membersihkan abu yang masuk ke dalam rumah. Abu vulkanik berbeda dari debu rumah tangga biasa karena mengandung partikel mineral yang dapat mengiritasi saluran pernapasan, mata, dan kulit. Kementerian Kesehatan mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembersihan dengan cara yang membuat abu kering kembali beterbangan. Permukaan yang tertutup abu dapat dibasahi secara ringan terlebih dahulu sebelum dibersihkan, sedangkan kain lembap dapat digunakan untuk membersihkan sejumlah permukaan. Anak-anak, lansia, serta orang dengan gangguan pernapasan sebaiknya dijauhkan dari area yang sedang dibersihkan.
Pintu dan jendela juga sebaiknya ditutup rapat ketika konsentrasi abu di luar rumah masih tinggi. Langkah tersebut membantu mengurangi jumlah partikel yang masuk sekaligus menjaga pakaian yang dikeringkan di dalam ruangan tetap bersih. Apabila harus membersihkan area dengan paparan abu cukup banyak, penggunaan masker dengan filtrasi yang baik, pelindung mata, sarung tangan, dan pakaian lengan panjang dapat mengurangi kontak langsung. Setelah melakukan aktivitas di luar, pakaian yang diduga terpapar abu sebaiknya segera diganti. Dengan demikian, partikel yang terbawa dari luar tidak tersebar ke kamar tidur, sofa, maupun ruangan lain.
Masyarakat juga perlu memperhatikan kondisi anggota keluarga yang memiliki kulit sensitif. Pakaian yang masih menyimpan partikel abu dapat menimbulkan rasa gatal atau ketidaknyamanan ketika bergesekan dengan kulit. Apabila setelah mengenakan pakaian muncul kemerahan atau iritasi, pakaian sebaiknya dilepas dan kulit dibersihkan menggunakan air bersih. Hindari menggaruk bagian yang terasa gatal karena dapat memperburuk iritasi. Keluhan yang berat, menetap, atau disertai gangguan pernapasan maupun mata perlu mendapatkan pemeriksaan tenaga kesehatan.
Selama abu vulkanik Anak Krakatau masih terdeteksi di udara, mengubah sementara kebiasaan menjemur pakaian merupakan langkah sederhana untuk mengurangi paparan. Pakaian yang telah bersih sebaiknya dikeringkan di dalam ruangan atau area yang benar-benar terlindung, dengan tetap menjaga sirkulasi dan kelembapan. Jika pakaian terlanjur terkena abu, mencucinya kembali dengan air lebih aman daripada langsung mengenakannya atau mengibaskannya di dalam rumah. Masyarakat juga perlu menjaga pintu dan jendela agar paparan dari luar dapat ditekan semaksimal mungkin. Setelah kondisi udara kembali membaik dan tidak terdapat lagi paparan abu, aktivitas menjemur pakaian di luar ruangan dapat dilakukan kembali seperti biasa.