Jakarta, 6 September 2026 – Tim penyelamat di Nepal berhasil menemukan seorang warga negara China dalam keadaan hidup setelah terjebak selama sekitar 10 hari di dalam terowongan proyek pembangkit listrik tenaga air yang terdampak banjir dan longsoran besar. Pria yang diidentifikasi bernama Lu Haitao atau Luhaitao itu ditemukan pada Sabtu, 5 September 2026, sekitar 225 meter di dalam terowongan proyek PLTA Upper Trishuli-1 di Distrik Rasuwa. Operasi penyelamatan dilakukan tim gabungan yang melibatkan personel Angkatan Darat Nepal bersama tenaga ahli asing yang membantu pencarian korban di sejumlah lokasi terdampak bencana. Setelah berhasil dikeluarkan dari terowongan, korban segera mendapatkan pemeriksaan medis dan kemudian dievakuasi menggunakan helikopter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Kondisinya dilaporkan stabil meskipun terlihat kelelahan setelah bertahan dalam kondisi ekstrem selama berhari-hari. Keberhasilan tersebut menjadi salah satu perkembangan penting dalam operasi pencarian korban yang masih berlangsung di berbagai proyek PLTA di Nepal.
Lu Haitao terjebak sejak bencana besar melanda kawasan tersebut pada 26 Agustus 2026, ketika runtuhan glasial dan material batuan memicu aliran air, lumpur, serta puing dalam jumlah sangat besar menuju lembah di bawahnya. Bencana itu menghantam kawasan sepanjang sistem Sungai Trishuli dan menyebabkan kerusakan luas terhadap permukiman maupun infrastruktur, termasuk sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga air. Terowongan tempat Lu ditemukan menjadi salah satu lokasi yang tertutup material setelah gelombang banjir dan lumpur menerjang kawasan tersebut. Kondisi medan yang berat membuat proses pencarian berlangsung lambat karena petugas harus memastikan jalur menuju bagian dalam terowongan cukup aman untuk dimasuki. Selain ancaman runtuhan susulan, tim penyelamat juga menghadapi tumpukan lumpur, batu, dan material bangunan yang menghambat akses. Meski demikian, pencarian terus dilakukan karena terdapat dugaan sejumlah pekerja masih dapat bertahan di ruang-ruang yang tidak sepenuhnya tertutup.
Saat menunggu pertolongan, Lu disebut beberapa kali melihat cahaya dari aktivitas tim penyelamat yang mencoba menembus bagian terowongan. Setiap kali melihat tanda-tanda keberadaan petugas, ia berusaha berteriak dengan keras untuk menarik perhatian, tetapi suaranya tidak terdengar dari luar. Situasi tersebut berlangsung hingga tim akhirnya berhasil mencapai titik tempat dirinya bertahan dan menemukan korban dalam keadaan sadar. Setelah sepuluh hari terisolasi, kemunculan cahaya penyelamat dari jarak dekat menjadi tanda bahwa akses menuju tempatnya berlindung akhirnya terbuka. Petugas kemudian membawa Lu keluar dengan bantuan beberapa anggota tim karena kondisi fisiknya membutuhkan perhatian setelah terjebak dalam waktu yang panjang. Rekaman proses evakuasi memperlihatkan tenaga medis memeriksa kondisi vitalnya selama perjalanan menggunakan helikopter. Keberhasilannya bertahan hidup memberikan harapan baru bagi keluarga korban lain yang masih menunggu kabar mengenai kerabat mereka.
Penyelamatan Lu Haitao juga menambah jumlah pekerja yang berhasil ditemukan hidup dari kompleks PLTA di sepanjang Sungai Trishuli. Sehari sebelumnya, pada Jumat, 4 September 2026, dua pekerja Nepal berhasil dikeluarkan dari terowongan PLTA Trishuli 3A setelah terjebak akibat bencana yang sama. Penemuan korban hidup setelah lebih dari sepekan membuat petugas meningkatkan pencarian di terowongan lain yang diperkirakan masih menyimpan ruang aman. Fokus operasi kini tidak hanya tertuju pada permukaan kawasan yang tertimbun, tetapi juga jaringan terowongan di berbagai proyek pembangkit yang terdampak. Ratusan pekerja diketahui berada di sekitar proyek-proyek tersebut ketika bencana terjadi, sehingga keberadaan mereka menjadi salah satu prioritas utama tim penyelamat. Otoritas memperkirakan sekitar 900 pekerja masih hilang dari sejumlah proyek PLTA, sementara ratusan di antaranya diduga berada atau terjebak di dalam terowongan. Besarnya jumlah korban yang belum ditemukan membuat operasi pencarian diperkirakan masih akan berlangsung dalam waktu panjang.
Bencana yang melanda Nepal tersebut bermula dari peristiwa runtuhan glasial dan batuan di kawasan pegunungan pada 26 Agustus 2026 yang kemudian menghasilkan aliran puing sangat besar. Material berupa air, es, lumpur, dan batu bergerak menuju lembah dengan kekuatan tinggi serta menghantam berbagai kawasan yang berada di jalurnya. Sejumlah distrik mengalami kerusakan berat, sementara infrastruktur transportasi dan energi ikut terdampak sehingga menyulitkan akses menuju lokasi bencana. Sedikitnya 12 proyek pembangkit listrik tenaga air dilaporkan mengalami kerusakan dalam skala berbeda akibat terjangan tersebut. Kondisi geografis Nepal yang didominasi wilayah pegunungan juga menambah tantangan karena beberapa lokasi hanya dapat dijangkau melalui jalur tertentu atau menggunakan helikopter. Kerusakan jalan dan jembatan membuat pengiriman alat berat, personel, makanan, obat-obatan, serta kebutuhan darurat lainnya harus dilakukan dengan perencanaan khusus.
Skala bencana membuat Nepal mendapatkan bantuan dari sejumlah negara dalam pelaksanaan operasi pencarian dan penyelamatan. Tim ahli dan personel dari berbagai negara ikut membantu petugas Nepal untuk menjangkau terowongan, bangunan yang tertimbun, serta kawasan yang mengalami kerusakan berat. Keahlian khusus diperlukan karena operasi di dalam terowongan memiliki risiko berbeda dibandingkan pencarian di kawasan terbuka. Petugas harus memeriksa kestabilan struktur, ketersediaan udara, potensi genangan, serta kemungkinan runtuhan baru sebelum bergerak lebih jauh ke dalam. Peralatan pencarian dan komunikasi juga digunakan untuk mendeteksi kemungkinan keberadaan korban pada lokasi yang sulit dijangkau secara langsung. Kerja sama antara Angkatan Darat Nepal dan tenaga ahli internasional menjadi bagian penting dari operasi tersebut, terutama ketika pencarian memasuki area yang memerlukan kemampuan teknis khusus. Penyelamatan Lu setelah 10 hari menunjukkan bahwa peluang menemukan korban hidup masih tetap ada meskipun waktu sejak terjadinya bencana terus bertambah.
Di luar kawasan proyek PLTA, tim penyelamat juga menemukan korban lain yang mampu bertahan setelah tertimbun selama berhari-hari. Seorang perempuan Nepal ditemukan hidup dari sebuah rumah yang tertimbun material di kawasan Nuwakot dan kemudian dievakuasi untuk mendapatkan perawatan. Penemuan tersebut semakin memperkuat keyakinan tim bahwa pencarian secara intensif masih harus diteruskan pada lokasi-lokasi yang memungkinkan terbentuknya rongga aman. Dalam kondisi bencana longsor dan runtuhan bangunan, ruang sempit yang tidak sepenuhnya tertutup dapat memberikan kesempatan kepada korban untuk bertahan apabila masih terdapat udara dan akses terhadap kebutuhan dasar. Namun, semakin panjang waktu yang berlalu, risiko dehidrasi, hipotermia, cedera, infeksi, serta gangguan kesehatan lainnya juga semakin meningkat. Karena itu, setiap indikasi keberadaan korban harus ditindaklanjuti secepat mungkin dengan tetap mempertimbangkan keselamatan tim penyelamat. Evakuasi korban yang berhasil ditemukan juga langsung diikuti pemeriksaan kesehatan menyeluruh untuk menentukan penanganan berikutnya.
Dampak bencana tersebut jauh melampaui operasi penyelamatan karena jumlah korban meninggal dan hilang telah mencapai angka yang sangat besar. Lebih dari 1.300 orang dilaporkan meninggal akibat banjir, longsoran, dan aliran puing yang menghantam kawasan Nepal serta wilayah perbatasan, sementara ribuan lainnya masih belum ditemukan. Ribuan warga juga harus meninggalkan tempat tinggal mereka setelah rumah mengalami kerusakan atau kawasan tempat tinggal dinilai tidak aman. Pemerintah Nepal menghadapi tantangan besar dalam menyediakan tempat penampungan, makanan, air bersih, layanan kesehatan, dan kebutuhan dasar bagi masyarakat terdampak. Setelah fase pencarian dan penyelamatan selesai, proses pemulihan diperkirakan membutuhkan waktu panjang karena kerusakan mencakup permukiman, jalan, fasilitas publik, serta infrastruktur energi. Pemerintah juga harus melakukan penilaian terhadap kestabilan kawasan pegunungan untuk menentukan daerah yang masih memiliki risiko longsoran atau banjir susulan.
Keberhasilan menemukan Lu Haitao hidup setelah sekitar 10 hari terjebak menjadi titik harapan di tengah besarnya dampak bencana yang melanda Nepal. Operasi pencarian kini terus diarahkan ke jaringan terowongan proyek PLTA serta kawasan lain yang diyakini masih memungkinkan terdapat korban selamat. Tim penyelamat harus berpacu dengan waktu sekaligus menghadapi medan yang berbahaya dan struktur yang telah mengalami kerusakan akibat tekanan air serta material longsoran. Setiap korban yang berhasil ditemukan memberikan informasi tambahan mengenai kondisi di dalam lokasi terdampak dan dapat membantu petugas menentukan strategi pencarian berikutnya. Sementara itu, pemerintah Nepal bersama tim internasional masih melanjutkan evakuasi, penanganan korban, dan distribusi bantuan bagi masyarakat yang kehilangan tempat tinggal. Penyelamatan setelah sepuluh hari tersebut menunjukkan bahwa pencarian di lokasi bencana masih memiliki peluang menghasilkan kabar baik, sehingga operasi akan terus dilakukan selama terdapat indikasi korban dapat ditemukan dalam keadaan hidup.