Jakarta, 5 September 2026 – Tren perjalanan wisatawan Indonesia menunjukkan perubahan sepanjang paruh pertama 2026 dengan meningkatnya minat terhadap penerbangan kelas premium dan akomodasi mewah. Pencarian tiket First Class dan Business Class tercatat melonjak 148 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada saat bersamaan, pencarian hotel bintang lima meningkat sekitar 37 persen. Perubahan tersebut menunjukkan sebagian wisatawan mulai menempatkan kenyamanan, kualitas layanan, dan pengalaman perjalanan sebagai pertimbangan penting selain harga. Kelompok usia produktif, terutama Gen X dan Milenial, menjadi penggerak utama tren tersebut. Pola perjalanan juga semakin mengarah pada liburan yang lebih panjang dan terpersonalisasi.
Data perjalanan selama Januari hingga Juni 2026 menunjukkan kelompok wisatawan berusia 35–49 tahun mempunyai kontribusi paling besar terhadap pemesanan kabin premium. Kelompok tersebut menyumbang sekitar 49,9 persen dari pemesanan penerbangan First Class dan Business Class. Pada kategori hotel bintang lima, kontribusinya bahkan mencapai sekitar 51,5 persen. Sementara wisatawan berusia 25–34 tahun menyumbang sekitar 24,9 persen pemesanan penerbangan premium dan 26,6 persen hotel bintang lima. Angka tersebut memperlihatkan kelompok usia produktif dengan kemampuan belanja relatif lebih kuat menjadi pasar penting bagi industri perjalanan kelas atas. Kenyamanan selama perjalanan semakin dipandang sebagai bagian dari pengalaman liburan secara keseluruhan.
General Manager Trip.com Indonesia Krishna Arya menilai perilaku wisatawan Indonesia mulai bergeser dari sekadar melakukan perjalanan menuju pencarian pengalaman yang lebih bermakna dan berkualitas. Wisatawan semakin bersedia mengalokasikan anggaran lebih besar untuk mendapatkan layanan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Tren tersebut terlihat tidak hanya melalui pemilihan kelas penerbangan dan hotel, tetapi juga meningkatnya minat terhadap perjalanan privat dan paket yang dapat disesuaikan. Fleksibilitas menentukan jadwal, aktivitas, hingga destinasi menjadi bagian penting dalam keputusan perjalanan. Permintaan terhadap perjalanan berbasis hiburan seperti konser musik internasional dan ajang olahraga juga semakin berkembang. Perubahan tersebut membuka peluang baru bagi industri pariwisata untuk menawarkan produk yang lebih personal.
Wisatawan yang menggunakan penerbangan First Class dan Business Class juga tercatat mempunyai durasi perjalanan lebih panjang. Rata-rata perjalanan kelompok tersebut mencapai sekitar 14,5 hari, sedangkan rata-rata seluruh jenis penerbangan berada di kisaran 11,5 hari. Selisih sekitar tiga hari menunjukkan pengguna kabin premium cenderung mengalokasikan waktu lebih banyak ketika bepergian. Perjalanan yang lebih panjang memungkinkan wisatawan mengunjungi lebih banyak tempat sekaligus menikmati aktivitas dengan tempo yang lebih fleksibel. Karakter tersebut membuat kebutuhan mereka tidak hanya berhenti pada penerbangan dan penginapan. Transportasi lokal, kuliner, aktivitas wisata, hiburan, hingga layanan perjalanan privat turut berpotensi mendapatkan manfaat dari peningkatan belanja wisatawan premium.
Frekuensi perjalanan internasional wisatawan Indonesia juga menunjukkan tingkat yang relatif tinggi. Rata-rata perjalanan ke luar negeri tercatat mencapai 2,17 kali per wisatawan. Angka tersebut sekitar 15 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata global pengguna platform perjalanan yang berada pada 1,89 perjalanan per wisatawan. Kondisi ini memperlihatkan perjalanan internasional semakin menjadi bagian dari pola konsumsi sebagian masyarakat Indonesia. Kemudahan pemesanan secara digital dan semakin beragamnya pilihan penerbangan turut mendukung perubahan tersebut. Bagi industri perjalanan, frekuensi yang lebih tinggi menciptakan peluang untuk menawarkan layanan berdasarkan karakter dan preferensi masing-masing pelanggan.
Perjalanan jarak jauh atau long-haul menjadi salah satu bagian penting dari tren wisata premium tersebut. Volume pemesanan penerbangan jarak jauh dari Indonesia meningkat sekitar 44 persen secara tahunan sepanjang paruh pertama 2026. Sekitar 49,4 persen pemesanan penerbangan premium merupakan perjalanan dengan jarak lebih dari 5.000 kilometer. Penerbangan jarak menengah dengan rentang 2.000 hingga 5.000 kilometer mengambil porsi sekitar 29,5 persen, sedangkan penerbangan jarak pendek sekitar 21,1 persen. Durasi penerbangan yang panjang membuat kenyamanan kabin mempunyai nilai lebih besar bagi sebagian wisatawan. Faktor tersebut menjadi salah satu alasan kelas Business dan First Class semakin menarik untuk perjalanan internasional tertentu.
Dari sisi destinasi, Jepang menjadi tujuan paling populer bagi wisatawan Indonesia berdasarkan volume pemesanan hotel selama paruh pertama tahun ini. Destinasi berikutnya mencakup Maroko, China, Inggris, Uni Emirat Arab, dan Australia. Sementara untuk penerbangan premium, China, Jepang, dan Arab Saudi menjadi tiga tujuan teratas hingga Juni 2026. Komposisi tersebut menunjukkan permintaan perjalanan premium tidak hanya berkaitan dengan destinasi wisata konvensional. Perjalanan bisnis, keagamaan, keluarga, serta kebutuhan menghadiri acara internasional juga dapat memengaruhi pola perjalanan masyarakat. Beragam tujuan tersebut sekaligus memberikan peluang bagi maskapai dan penyedia layanan perjalanan untuk mengembangkan produk yang lebih spesifik.
Personalisasi juga semakin terlihat melalui penggunaan layanan perjalanan yang memungkinkan wisatawan menyusun agenda berdasarkan preferensi sendiri. Indonesia tercatat berada di posisi ketujuh dalam daftar negara dengan jumlah wisatawan terbanyak yang memilih layanan Custom Tours sepanjang paruh pertama 2026. Wisatawan dapat menentukan aktivitas, waktu perjalanan, pilihan akomodasi, hingga pengalaman yang ingin diperoleh selama berada di destinasi. Tren tersebut berbeda dengan pola paket wisata konvensional yang biasanya menggunakan jadwal dan rangkaian aktivitas seragam. Kemampuan mengendalikan perjalanan sendiri semakin dianggap penting, terutama bagi wisatawan yang mempunyai anggaran lebih besar. Industri pariwisata kemudian dituntut menyediakan pilihan yang fleksibel sekaligus tetap mudah diakses melalui platform digital.
Tren premium juga terlihat dari arah sebaliknya ketika wisatawan mancanegara memilih Indonesia sebagai tujuan perjalanan. Indonesia masuk dalam lima besar destinasi untuk pemesanan hotel premium oleh wisatawan internasional pada paruh pertama 2026. Pemesanan hotel kelas atas oleh wisatawan asing tercatat tumbuh sekitar 37 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. China, Singapura, Jepang, Malaysia, dan Korea Selatan menjadi sejumlah pasar utama untuk pemesanan akomodasi premium di Indonesia. Perkembangan tersebut memberikan peluang bagi industri perhotelan, restoran, transportasi, ekonomi kreatif, serta pengelola destinasi untuk menangkap belanja wisatawan dengan daya beli tinggi. Kualitas pelayanan dan kemudahan akses menjadi faktor yang semakin menentukan daya saing destinasi Indonesia.
Lonjakan pencarian penerbangan First Class dan Business Class hingga 148 persen pada akhirnya menunjukkan perubahan preferensi sebagian wisatawan Indonesia selama 2026. Gen X dan Milenial menjadi kelompok dominan karena berada pada usia produktif dan relatif lebih siap mengalokasikan dana untuk pengalaman perjalanan berkualitas. Namun, tren tersebut tidak berarti seluruh wisatawan meninggalkan perjalanan berbiaya terjangkau karena kebutuhan setiap kelompok tetap berbeda. Pasar perjalanan Indonesia justru semakin tersegmentasi antara wisata hemat, perjalanan singkat, hingga liburan premium dengan tingkat personalisasi tinggi. Bagi industri pariwisata, perubahan ini membuka peluang untuk menyediakan produk yang lebih beragam sesuai kemampuan dan kebutuhan konsumen. Perjalanan yang nyaman, fleksibel, dan memberikan pengalaman bernilai semakin menjadi bagian penting dalam keputusan wisatawan Indonesia.