Jakarta, 2 September 2026 – Tim bulu tangkis muda Indonesia U-16 berhasil meraih posisi runner-up dalam ajang Tokyo International Youth Sports Games (TIYSG) 2026 di Jepang. Skuad Merah Putih menempati peringkat kedua setelah menjalani rangkaian pertandingan pada 29–30 Agustus 2026 di Komazawa Olympic Park, Tokyo. Indonesia tampil kompetitif sejak fase penyisihan hingga partai puncak sebelum akhirnya harus mengakui keunggulan Fukushima dengan skor 2-3. Meski gagal membawa pulang gelar juara, pencapaian tersebut menjadi hasil penting bagi proses pembinaan dan regenerasi atlet bulu tangkis Indonesia.
TIYSG 2026 mempertemukan sejumlah tim muda dari kawasan Asia dalam kompetisi beregu campuran. Pertandingan menggunakan format yang menyerupai sistem Piala Sudirman dengan lima sektor, yakni tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran. Format tersebut membuat kedalaman skuad menjadi faktor penting karena setiap tim harus memiliki kekuatan di berbagai nomor. Indonesia pun membawa sejumlah pemain muda yang diharapkan dapat berkembang menjadi bagian dari generasi penerus bulu tangkis nasional.
Perjalanan Indonesia di fase grup berlangsung sangat meyakinkan. Skuad Merah Putih tergabung di Grup A bersama Thailand, Saitama, dan Tokyo A. Dalam dua pertandingan awal, Indonesia tampil dominan dengan menyapu bersih kemenangan 5-0 atas Thailand dan Tokyo A. Hasil tersebut menunjukkan kemampuan para pemain muda Indonesia dalam menghadapi lawan dari negara dengan tradisi bulu tangkis yang cukup kuat sekaligus memberikan modal kepercayaan diri untuk melanjutkan perjalanan ke fase berikutnya.
Setelah melewati fase penyisihan, Indonesia melanjutkan perjuangan menghadapi Saitama untuk memperebutkan tiket menuju partai puncak. Pertandingan tersebut menjadi ujian berikutnya bagi para pemain muda karena mereka harus menjaga konsistensi setelah tampil dominan pada fase grup. Indonesia akhirnya mampu mengatasi perlawanan wakil Jepang tersebut dan memastikan tempat di final. Keberhasilan mencapai partai puncak sekaligus memperlihatkan bahwa skuad U-16 Indonesia memiliki kapasitas untuk bersaing dalam kompetisi internasional kelompok usia.
Pada pertandingan final, Indonesia berhadapan dengan Fukushima yang tampil sebagai lawan terakhir dalam perebutan gelar juara. Pertandingan berlangsung sengit karena kedua tim sama-sama memiliki peluang untuk memenangkan lima sektor yang dipertandingkan. Indonesia akhirnya harus menerima kekalahan tipis dengan skor 2-3 sehingga Fukushima keluar sebagai juara dan Merah Putih berada di posisi kedua. Thailand menempati peringkat ketiga, sedangkan Chinese Taipei berada di posisi keempat dalam klasemen akhir kompetisi bulu tangkis.
Skuad Indonesia diperkuat sejumlah talenta muda, di antaranya Antoine Akhzar Syihab, Athaya Affan Zidan, dan Raynanda Laksmana. Sektor putri juga diisi Divya Amanta Kuncoro, Malika Nur Aqilah, serta Yemima Febryanti Wijaya. Mereka berada di bawah arahan manajer sekaligus kepala pelatih Eddy Prayitno, dengan dukungan pelatih Aji Kurnia Putra dan Yeni Dyah. Kehadiran para pemain tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan pengalaman pertandingan internasional sejak usia muda.
Prestasi tersebut mendapat apresiasi dari perwakilan Indonesia di Jepang. Pencapaian para atlet muda dinilai menjadi bukti bahwa proses regenerasi bulu tangkis nasional terus berjalan dan para pemain usia dini mulai mendapatkan kesempatan untuk menguji kemampuan di luar negeri. Pengalaman menghadapi pemain dari berbagai negara juga memberikan pembelajaran yang tidak selalu bisa diperoleh melalui kompetisi domestik. Faktor mental, adaptasi terhadap kondisi pertandingan, serta kemampuan menghadapi tekanan menjadi bagian penting dari proses perkembangan mereka.
Bagi para atlet U-16, pengalaman tampil di Tokyo juga menjadi bekal untuk menghadapi turnamen berikutnya. Hasil runner-up memberikan gambaran mengenai kekuatan yang sudah dimiliki sekaligus bagian permainan yang masih perlu diperbaiki. Kekalahan tipis di final dapat menjadi bahan evaluasi bagi tim pelatih untuk meningkatkan kemampuan teknis dan strategi para pemain. Dengan usia yang masih muda, kesempatan mendapatkan pengalaman kompetitif secara berkelanjutan akan menjadi bagian penting dalam membentuk kesiapan mereka menuju jenjang prestasi yang lebih tinggi.
Keberhasilan Indonesia menempati posisi kedua juga memiliki arti penting dalam menjaga tradisi regenerasi bulu tangkis nasional. Prestasi di kelompok usia tidak hanya dinilai dari gelar yang diraih, tetapi juga dari kemampuan pemain mendapatkan pengalaman menghadapi atmosfer pertandingan internasional. Para pemain yang tampil di Tokyo memiliki kesempatan untuk belajar menghadapi lawan dengan karakter permainan berbeda dan memahami tuntutan pertandingan beregu. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi fondasi ketika mereka nantinya memasuki kompetisi junior yang lebih tinggi maupun jenjang senior.
Dengan meraih runner-up Tokyo International Youth Sports Games 2026, tim bulu tangkis U-16 Indonesia menunjukkan potensi yang menjanjikan di tengah persaingan internasional. Perjalanan tanpa kekalahan pada fase grup hingga mencapai final menjadi catatan positif sebelum mereka akhirnya kalah tipis dari Fukushima. Hasil tersebut sekaligus memberikan pengalaman berharga bagi para pemain muda untuk terus berkembang dan memperbaiki kekurangan. Medali perak di Tokyo pun menjadi salah satu pijakan penting dalam perjalanan panjang mereka menuju level kompetisi yang lebih tinggi.