Jakarta, 1 September 2026 – Momen istirahat makan siang menjadi salah satu faktor yang membantu menyelamatkan sejumlah siswa ketika banjir bandang menerjang Shree Bagheswori Madhyamik School di Distrik Dhading, Nepal. Banjir tersebut terjadi pada Rabu, 26 Agustus 2026, ketika sebagian siswa telah keluar dari ruang kelas karena bel istirahat baru saja berbunyi. Dalam hitungan menit, aliran air bercampur lumpur dan material banjir menerjang kawasan sekolah dengan kekuatan besar. Siswa yang masih berada di dalam kelas kemudian segera diarahkan keluar oleh para guru setelah terdengar suara gemuruh dari arah datangnya banjir. Keputusan cepat tersebut membuat anak-anak memiliki waktu untuk bergerak menuju area yang lebih tinggi sebelum kompleks sekolah terendam lumpur dan air.
Peristiwa itu menjadi salah satu gambaran betapa cepatnya situasi dapat berubah ketika banjir bandang datang tanpa memberikan banyak waktu untuk melakukan evakuasi. Ketika bel makan siang berbunyi, sebagian siswa sudah berada di luar ruangan sehingga mereka tidak terjebak di dalam kelas ketika air mulai mendekati kawasan sekolah. Para guru yang menyadari adanya bahaya kemudian meminta siswa meninggalkan tas dan kotak makan mereka agar dapat bergerak lebih cepat. Anak-anak berlari keluar dari bangunan dan menuju lereng perbukitan yang berada di sekitar sekolah. Tidak lama setelah mereka berhasil menjauh, air bah membawa lumpur dalam jumlah besar dan masuk ke kawasan sekolah hingga menutupi ruang kelas serta halaman.
Kisah tersebut juga disampaikan oleh keluarga para siswa yang kemudian kembali ke sekolah untuk melihat kondisi bangunan dan mencari barang-barang yang masih dapat diselamatkan. Ketika datang kembali pada Minggu, 30 Agustus, mereka menemukan sebagian besar area sekolah telah tertutup lumpur tebal. Tas sekolah anak-anak terlihat berserakan di atas meja dan lantai, sementara sejumlah perabot sekolah tertimbun material yang terbawa banjir. Bekas genangan pada dinding menunjukkan bahwa air naik dengan cepat setelah aliran banjir mencapai kompleks sekolah. Bagi keluarga siswa, kerusakan barang dan fasilitas sekolah menjadi persoalan yang berat, tetapi keselamatan anak-anak menjadi hal yang jauh lebih penting setelah mereka berhasil keluar dari lokasi sebelum banjir mencapai puncaknya.
Lakshmi Shrestha, salah satu orang tua siswa, menceritakan bahwa anaknya masih mengingat perintah para guru untuk segera meninggalkan tas dan kotak bekal. Instruksi tersebut menjadi penting karena anak-anak yang membawa perlengkapan sekolah berisiko bergerak lebih lambat ketika harus berlari menuju tempat aman. Dalam situasi darurat, beberapa detik dapat menentukan apakah seseorang berhasil menjauh dari aliran air atau justru terjebak di dalam bangunan. Para siswa akhirnya meninggalkan barang-barang mereka dan bergerak menuju kawasan yang lebih tinggi. Keputusan sederhana tersebut kemudian membantu mempercepat evakuasi ketika banjir mulai memasuki area sekolah.
Selain faktor waktu istirahat, kesiapan dan respons para guru juga berperan besar dalam menyelamatkan siswa. Guru yang berada di lokasi segera merespons suara gemuruh air dan memperingatkan anak-anak agar tidak tetap berada di ruang kelas. Mereka tidak menunggu hingga air benar-benar mencapai bangunan untuk memulai evakuasi. Tindakan tersebut memberikan kesempatan kepada siswa untuk keluar sebelum jalur penyelamatan semakin sulit dilalui. Kejadian tersebut menunjukkan pentingnya kewaspadaan terhadap tanda-tanda awal bencana, terutama di kawasan yang memiliki risiko banjir bandang dan berada dekat dengan aliran sungai maupun lereng perbukitan.
Banjir bandang yang melanda kawasan tersebut menjadi bagian dari bencana besar yang berdampak di sejumlah wilayah Nepal dan Tibet. Aliran air yang membawa lumpur serta material dari wilayah hulu bergerak cepat dan menghantam permukiman, fasilitas umum, serta berbagai infrastruktur. Sejumlah kawasan mengalami kerusakan berat karena derasnya aliran air membuat bangunan tidak memiliki banyak waktu untuk melakukan perlindungan. Kondisi geografis Nepal yang memiliki banyak wilayah pegunungan membuat beberapa daerah memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap banjir bandang, terutama ketika hujan deras terjadi di wilayah hulu. Dalam situasi seperti itu, sistem peringatan dini dan kemampuan masyarakat merespons informasi menjadi faktor penting dalam mengurangi risiko korban.
Dampak bencana juga terasa sangat besar pada sektor pendidikan Nepal. Sedikitnya 69 sekolah dilaporkan mengalami kerusakan atau hancur akibat banjir, sehingga hampir 19.000 anak terdampak dan menghadapi gangguan terhadap kegiatan belajar mereka. Kerusakan sekolah membuat sebagian siswa tidak dapat kembali mengikuti kegiatan pembelajaran seperti biasa meskipun kondisi di luar kawasan bencana mulai membaik. Pemerintah dan organisasi kemanusiaan harus menghadapi kebutuhan pemulihan fasilitas pendidikan sekaligus memastikan anak-anak tetap memperoleh akses belajar. Kondisi tersebut menjadi semakin kompleks karena sejumlah wilayah masih menghadapi risiko banjir susulan dan sebagian masyarakat masih berada dalam proses evakuasi.
Bagi siswa yang berhasil menyelamatkan diri, pengalaman tersebut tetap meninggalkan dampak yang tidak mudah dilupakan. Mereka melihat langsung bagaimana bangunan sekolah yang sebelumnya digunakan setiap hari dapat tertutup lumpur dalam waktu singkat. Sebagian anak kehilangan tas, buku, pakaian, maupun perlengkapan belajar lainnya yang tertinggal ketika mereka mengikuti perintah untuk segera meninggalkan sekolah. Namun, kehilangan barang-barang tersebut dianggap jauh lebih ringan dibandingkan risiko yang dapat terjadi apabila siswa tetap berada di dalam bangunan. Keluarga para siswa juga menghadapi perasaan campur aduk ketika kembali ke sekolah, antara rasa syukur karena anak mereka selamat dan kesedihan melihat tempat belajar yang rusak parah.
Peristiwa tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya prosedur evakuasi bagi sekolah yang berada di kawasan rawan bencana. Anak-anak membutuhkan arahan yang jelas karena mereka mungkin tidak dapat mengenali tingkat bahaya hanya berdasarkan suara atau perubahan kondisi lingkungan. Guru dan pengelola sekolah memiliki peran penting untuk menentukan kapan kegiatan belajar harus dihentikan dan ke mana siswa harus diarahkan. Dalam kondisi banjir bandang, membawa barang-barang pribadi seharusnya tidak menjadi prioritas karena kecepatan evakuasi dapat menentukan keselamatan. Pengalaman di Dhading menunjukkan bahwa keputusan untuk meninggalkan tas dan kotak makan justru membantu siswa bergerak lebih cepat menuju tempat yang lebih aman.
Bencana tersebut juga membuat sejumlah sekolah di wilayah terdampak tetap menghentikan kegiatan pembelajaran meskipun masa penutupan sekolah secara umum telah berakhir. Pemerintah harus mempertimbangkan kondisi masing-masing daerah karena tingkat kerusakan dan risiko bencana tidak sama di setiap lokasi. Sekolah yang bangunannya rusak membutuhkan pemeriksaan sebelum dapat kembali digunakan, sementara wilayah yang masih memiliki ancaman banjir memerlukan langkah evakuasi tambahan. Anak-anak juga membutuhkan dukungan setelah mengalami peristiwa traumatis yang terjadi secara tiba-tiba. Pemulihan pendidikan karena itu tidak hanya berkaitan dengan memperbaiki gedung sekolah, tetapi juga memastikan lingkungan belajar kembali aman dan mendukung kondisi psikologis siswa.
Di tengah skala bencana yang besar, kisah para siswa di Shree Bagheswori Madhyamik School menjadi contoh bagaimana keputusan cepat dapat memberikan perbedaan besar dalam keadaan darurat. Waktu istirahat yang biasanya menjadi bagian biasa dari kegiatan sekolah justru menjadi momen penting karena sebagian siswa sudah berada di luar kelas ketika banjir datang. Respons guru kemudian membantu siswa lain meninggalkan ruangan sebelum air mencapai bangunan. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa keselamatan dalam bencana dapat dipengaruhi oleh kombinasi antara keberuntungan, kewaspadaan, informasi, dan tindakan cepat. Pengalaman tersebut juga dapat menjadi bahan evaluasi bagi sekolah lain di kawasan rawan agar memiliki prosedur tanggap darurat yang lebih siap.
Sementara itu, proses penanganan bencana di Nepal masih terus berlangsung karena dampaknya meluas hingga sejumlah wilayah dan menimbulkan korban dalam jumlah besar. Tim penyelamat masih melakukan pencarian terhadap warga yang belum ditemukan, sementara masyarakat yang kehilangan tempat tinggal membutuhkan bantuan dasar dan perlindungan. Infrastruktur yang rusak juga menjadi tantangan dalam proses evakuasi maupun distribusi bantuan ke daerah terdampak. Pemerintah bersama organisasi kemanusiaan harus melakukan pemulihan secara bertahap sambil tetap mengantisipasi kemungkinan munculnya bencana susulan. Kondisi tersebut membuat sekolah dan fasilitas publik lainnya belum dapat langsung kembali beroperasi secara normal di semua wilayah.
Kisah siswa yang selamat dari banjir bandang di Dhading pada akhirnya memperlihatkan bahwa keselamatan dapat ditentukan dalam hitungan menit, bahkan dalam keadaan yang tampak seperti rutinitas biasa. Saat bel makan siang berbunyi, sebagian siswa kebetulan telah keluar kelas, sementara guru dengan cepat memerintahkan siswa lainnya meninggalkan ruangan dan barang bawaan mereka. Tidak lama kemudian, air bercampur lumpur menerjang kompleks sekolah dan merusak berbagai fasilitas yang ada di dalamnya. Kerusakan sekolah dan hilangnya perlengkapan belajar menjadi konsekuensi yang harus dihadapi, tetapi sebagian besar siswa berhasil menyelamatkan diri. Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan, peringatan dini, serta prosedur evakuasi yang jelas bagi sekolah-sekolah yang berada di wilayah rawan banjir dan bencana alam.